All Stories

Jumat, 03 Agustus 2018



Sekilas tulisan di atas tampak seperti tulisan berbahasa Arab, bukan? Tetapi, mintalah orang Arab untuk membacanya, pasti mereka tidak akan bisa. Mengapa demikian? Karena tulisan di atas bukanlah huruf Arab, melainkan huruf Pegon.

Apa itu Huruf Pegon?
Huruf Pegon adalah sistem penulisan (writing system) yang menggunakan/meminjam aksara Arab yang dimodifikasi (Arabic modified script) untuk menuliskan ejaan bahasa-bahasa lokal, semisal bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Madura, dan bahasa Bali, termasuk juga digunakan untuk menuliskan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Konon, kata Pegon berasal dari lafal Jawa Pego, yang berarti menyimpang.
Para santri Pesantren dan siswa madrasah diniyah yang berafiliasi di bawah organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tentu tidak asing dengan huruf Pegon. Bahkan, mereka sangat karib karena untuk memaknai kitab salaf mereka harus menggunakan huruf ini. Setidaknya, untuk tingkat dasar (ibtida’), huruf Pegon menjadi huruf utama dalam kitab-kitab yang mereka kaji. Sebut saja beberapa kitab tingkat dasar karya ulama Nusantara, di antaranya, Fasholatan karya KHR. Asnawi Kudus, Syi’ir Bahasa Arab (Ro’sun sirah) karya Kiai Zubaidi Hasbullah, Kitab Alala [1], Ngudi Susilo karya KH. Bisri Mustofa, dan lain-lain.

 





Keunikan Huruf Pegon
Dilihat dari struktur penulisannya, huruf Pegon mempunyai keunikan tersendiri.
1.     Tulisannya seperti tulisan Arab pada umumnya. Akan tetapi, jika dicermati, rangkaian hurufnya tidak membentuk kata dalam bahasa Arab.
2.    Menggunakan semua aksara hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang telah dimodifikasi. Misalnya, untuk konsonan P  menggunakan huruf fa’ dengan tiga titik di atasnya; konsonan C menggunakan huruf Jim yang bertitik tiga di bawah; konsonan G menggunakan huruf Kaf yang bertitik tiga di bawah atau bertitik satu di atas.


Sejak Kapan Ada Huruf Pegon?
Konon, tradisi menulis dengan huruf Pegon telah tumbuh sejak abad ke-16. Bahkan, ada pula yang berpandangan bahwa penulisan Arab Pegon di Nusantara diperkirakan telah ada sejak tahun 1300 M/1400 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan kepercayaan animisme, Hindu, dan Budha.
Mengenai siapa yang menemukan huruf Arab Pegon, para peneliti belum menemukan titik terang. Namun, yang jelas, bisa dipastikan huruf Pegon merupakan karya intelektual muslim Nusantara pada abadnya.


[1] Kitab kecil yang terdiri dari 37 bait nazham ini sebetulnya merupakan kumpulan bait-bait syi’ir yang termaktub acak dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya az-Zarnuji. Kitab Alala memiliki beberapa versi cetakan/penerbitan. Dalam satu versi tidak dicantumkan nama pengarangnya. Sementara dalam versi lain ada yang mencantumkan nama Muhammad Abu Basyir Al-Dimawi, dan ada pula nama Muhammad Hasanuddin Hafid al-Marhum & Haji Muhammad Masyhadi Pekalongan, sebagai pengarangnya (penyusun bait-bait syi’ir berbahasa Jawa dan berhuruf Pegon).

Mengenal Huruf Pegon

Irham Sya'roni   at  Agustus 03, 2018  No comments



Sekilas tulisan di atas tampak seperti tulisan berbahasa Arab, bukan? Tetapi, mintalah orang Arab untuk membacanya, pasti mereka tidak akan bisa. Mengapa demikian? Karena tulisan di atas bukanlah huruf Arab, melainkan huruf Pegon.

Apa itu Huruf Pegon?
Huruf Pegon adalah sistem penulisan (writing system) yang menggunakan/meminjam aksara Arab yang dimodifikasi (Arabic modified script) untuk menuliskan ejaan bahasa-bahasa lokal, semisal bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Madura, dan bahasa Bali, termasuk juga digunakan untuk menuliskan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Konon, kata Pegon berasal dari lafal Jawa Pego, yang berarti menyimpang.
Para santri Pesantren dan siswa madrasah diniyah yang berafiliasi di bawah organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tentu tidak asing dengan huruf Pegon. Bahkan, mereka sangat karib karena untuk memaknai kitab salaf mereka harus menggunakan huruf ini. Setidaknya, untuk tingkat dasar (ibtida’), huruf Pegon menjadi huruf utama dalam kitab-kitab yang mereka kaji. Sebut saja beberapa kitab tingkat dasar karya ulama Nusantara, di antaranya, Fasholatan karya KHR. Asnawi Kudus, Syi’ir Bahasa Arab (Ro’sun sirah) karya Kiai Zubaidi Hasbullah, Kitab Alala [1], Ngudi Susilo karya KH. Bisri Mustofa, dan lain-lain.

 





Keunikan Huruf Pegon
Dilihat dari struktur penulisannya, huruf Pegon mempunyai keunikan tersendiri.
1.     Tulisannya seperti tulisan Arab pada umumnya. Akan tetapi, jika dicermati, rangkaian hurufnya tidak membentuk kata dalam bahasa Arab.
2.    Menggunakan semua aksara hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang telah dimodifikasi. Misalnya, untuk konsonan P  menggunakan huruf fa’ dengan tiga titik di atasnya; konsonan C menggunakan huruf Jim yang bertitik tiga di bawah; konsonan G menggunakan huruf Kaf yang bertitik tiga di bawah atau bertitik satu di atas.


Sejak Kapan Ada Huruf Pegon?
Konon, tradisi menulis dengan huruf Pegon telah tumbuh sejak abad ke-16. Bahkan, ada pula yang berpandangan bahwa penulisan Arab Pegon di Nusantara diperkirakan telah ada sejak tahun 1300 M/1400 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan kepercayaan animisme, Hindu, dan Budha.
Mengenai siapa yang menemukan huruf Arab Pegon, para peneliti belum menemukan titik terang. Namun, yang jelas, bisa dipastikan huruf Pegon merupakan karya intelektual muslim Nusantara pada abadnya.


[1] Kitab kecil yang terdiri dari 37 bait nazham ini sebetulnya merupakan kumpulan bait-bait syi’ir yang termaktub acak dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya az-Zarnuji. Kitab Alala memiliki beberapa versi cetakan/penerbitan. Dalam satu versi tidak dicantumkan nama pengarangnya. Sementara dalam versi lain ada yang mencantumkan nama Muhammad Abu Basyir Al-Dimawi, dan ada pula nama Muhammad Hasanuddin Hafid al-Marhum & Haji Muhammad Masyhadi Pekalongan, sebagai pengarangnya (penyusun bait-bait syi’ir berbahasa Jawa dan berhuruf Pegon).

Lanjutkan Membaca→

0 komentar:


Diniyyah an-Nahdliyyah, yang meliputi program hafalan (tahfizh) Juz ‘Amma dan diniyyah salafiyyah, merupakan program baru di MI Ma’arif Pijenan. Sebagai program baru tentunya membutuhkan perjuangan dan koordinasi yang lebih intensif daripada program lainnya yang lebih dulu berjalan dan mapan. Untuk itulah Dewan Asatidz bersepakat menggelar koordinasi rutin setiap seminggu sekali. Dalam koordinasi ini, selain membahas persoalan pendidikan dan pembelajaran, juga menjadi ajang silaturahim antardewan asatidz.
Menyadari bahwa dunia pendidikan dan pembelajaran yang terus berkembang, dalam koordinasi mingguan itu disampaikan kuliah singkat dan pelatihan keterampilan pedagogis untuk para ustadz dan ustadzah. Kuliah singkat dan pelatihan keterampilan pedagogis diberikan oleh Irham Sya’roni, S.Pd.I selaku Penanggung Jawab dan Koordinator Program.

Koordinasi Perdana di Ingkung Pak Budi

Koordinasi
Koordinasi mutlak dibutuhkan dalam sebuah organisasi. Tanpa koordinasi yang baik, roda organisasi akan mengalami disharmoni atau ketidakselarasan dalam perputaran dan perjalanannya. O. Sutisna, dalam Administrasi Pendidikan (1989) mendefinisikan koordinasi sebagai proses mempersatukan sumbangan-sumbangan dari orang-orang, bahan, dan sumber-sumber lain ke arah maksud-maksud yg telah ditetapkan.

Koordinasi Kedua di Rumah Bapak Irham Sya'roni

Silaturahim
Kekeluargaan dan kebersamaan merupakan asas penting suatu sistem organisasi. Pun dalam Program Diniyyah an-Nahdliyyah, asas kebersamaan dan kekeluargaan menjadi keniscayaan yang tak boleh diabaikan. Dengan asas ini pulalah koordinasi akan berjalan lebih luwes dan cair. Koordinasi yang terbangun bukanlah antara atasan dan bawahan, melainkan antara anggota keluarga sebagai partner kerja. Hubungan yang tercipta pun bukan hierarkis, melainkan kolektif kolegial. Kekeluargaan dan kebersamaan ini boleh kita sebut sebagai silaturahim.

Koordinasi di Rumah Ust. H. Syamsuddin 


Pelatihan Keterampilan Pedagogis
Mayoritas para ustadz dan ustadzah adalah mutakharrijin (alumnus) pesantren salaf, yang notabene mereka mempunyai basis keilmuan agama yang mumpuni namun belum sepenuhnya menguasai keterampilan pedagogis. Oleh karena itulah pelatihan keterampilan pedagogis mutlak diberikan agar keilmuan yang mumpuni tersebut dapat tersampaikan dalam pembelajaran secara baik, efektif, dan menyenangkan.
Di antara materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah metode dan strategi pembelajaran, keterampilan mengondisikan kelas, keterampilan menarik perhatian siswa, teknik evaluasi, dan lain-lain.
Pungkasan, Semoga semua pihak yang terlibat dalam perjuangan memajukan pendidikan Islam di Indonesia senantiasa mendapat ridha Allah Ta’ala dan dicatat sebagai amal jariyah mereka semua. Aamiin…
 
Pelatihan Keterampilan Pedagogis Dewan Asatidz

Koordinasi, Silaturahim, & Pelatihan Keterampilan Pedagogis

Irham Sya'roni   at  Agustus 03, 2018  No comments


Diniyyah an-Nahdliyyah, yang meliputi program hafalan (tahfizh) Juz ‘Amma dan diniyyah salafiyyah, merupakan program baru di MI Ma’arif Pijenan. Sebagai program baru tentunya membutuhkan perjuangan dan koordinasi yang lebih intensif daripada program lainnya yang lebih dulu berjalan dan mapan. Untuk itulah Dewan Asatidz bersepakat menggelar koordinasi rutin setiap seminggu sekali. Dalam koordinasi ini, selain membahas persoalan pendidikan dan pembelajaran, juga menjadi ajang silaturahim antardewan asatidz.
Menyadari bahwa dunia pendidikan dan pembelajaran yang terus berkembang, dalam koordinasi mingguan itu disampaikan kuliah singkat dan pelatihan keterampilan pedagogis untuk para ustadz dan ustadzah. Kuliah singkat dan pelatihan keterampilan pedagogis diberikan oleh Irham Sya’roni, S.Pd.I selaku Penanggung Jawab dan Koordinator Program.

Koordinasi Perdana di Ingkung Pak Budi

Koordinasi
Koordinasi mutlak dibutuhkan dalam sebuah organisasi. Tanpa koordinasi yang baik, roda organisasi akan mengalami disharmoni atau ketidakselarasan dalam perputaran dan perjalanannya. O. Sutisna, dalam Administrasi Pendidikan (1989) mendefinisikan koordinasi sebagai proses mempersatukan sumbangan-sumbangan dari orang-orang, bahan, dan sumber-sumber lain ke arah maksud-maksud yg telah ditetapkan.

Koordinasi Kedua di Rumah Bapak Irham Sya'roni

Silaturahim
Kekeluargaan dan kebersamaan merupakan asas penting suatu sistem organisasi. Pun dalam Program Diniyyah an-Nahdliyyah, asas kebersamaan dan kekeluargaan menjadi keniscayaan yang tak boleh diabaikan. Dengan asas ini pulalah koordinasi akan berjalan lebih luwes dan cair. Koordinasi yang terbangun bukanlah antara atasan dan bawahan, melainkan antara anggota keluarga sebagai partner kerja. Hubungan yang tercipta pun bukan hierarkis, melainkan kolektif kolegial. Kekeluargaan dan kebersamaan ini boleh kita sebut sebagai silaturahim.

Koordinasi di Rumah Ust. H. Syamsuddin 


Pelatihan Keterampilan Pedagogis
Mayoritas para ustadz dan ustadzah adalah mutakharrijin (alumnus) pesantren salaf, yang notabene mereka mempunyai basis keilmuan agama yang mumpuni namun belum sepenuhnya menguasai keterampilan pedagogis. Oleh karena itulah pelatihan keterampilan pedagogis mutlak diberikan agar keilmuan yang mumpuni tersebut dapat tersampaikan dalam pembelajaran secara baik, efektif, dan menyenangkan.
Di antara materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah metode dan strategi pembelajaran, keterampilan mengondisikan kelas, keterampilan menarik perhatian siswa, teknik evaluasi, dan lain-lain.
Pungkasan, Semoga semua pihak yang terlibat dalam perjuangan memajukan pendidikan Islam di Indonesia senantiasa mendapat ridha Allah Ta’ala dan dicatat sebagai amal jariyah mereka semua. Aamiin…
 
Pelatihan Keterampilan Pedagogis Dewan Asatidz

Lanjutkan Membaca→

0 komentar:


Demi menunaikan amanah pendidikan yang diembankan kepada MI Ma’arif Pijenan, mulai tahun ajaran baru 2018/2019 MI Ma’arif Pijenan membuka program baru yang disebut dengan Program Diniyyah an-Nahdliyyah. Program ini dilaksanakan setiap Sabtu mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 09.15 WIB.
Program ini terdiri dari:

1.     Tahfiz Al-Qur’an
Melalui tahfizh al-Qur’an diharapkan setamat dari MI Ma’arif Pijenan peserta didik hafal (minimal) Juz 30 (Juz ‘Amma). Dalam program tahfiz al-Qur’an, para siswa dibimbing langsung oleh ustadz dan ustadzah alumnus pesantren dan ahli di bidangnya, yakni para penghafal (hafizh) al-Qur’an.

2.     Diniyyah Salafiyah
Diniyyah Salafiyyah adalah program pembelajaran khusus keislaman yang berbasis ke-NU-an dan bernuansa kepesantrenan. Program ini diampu dan diasuh oleh para ustadz dan ustadzah alumnus pesantren. Adapun materi khas yang diberikan, di antaranya, adalah keterampilan membaca dan menulis huruf Arab, membaca dan menulis huruf Pegon (Arab-Jawa), hafalan syi'ir/nazham Arab-Jawa, praktik ibadah, amaliyah ke-NU-an, dan sebagainya.
Alokasi waktu untuk program di atas memang sangat singkat. Namun demikian, dengan kerjasama yang sinergis dan harmonis antara peserta didik, dewan asatidz, orang tua, guru kelas, dan Kepala Madrasah, tidak mustahil target dari program tersebut dapat tercapai dengan baik dan membanggakan. Oleh karena itu, demi menyukseskan program tersebut, mari bersinergi demi masa depan pendidikan generasi Islam.

Berikut adalah data dewan asatidz Program Diniyyah an-Nahdliyyah:

  1.           Ustadzah Ulfah Nurhidayah, S.Pd.I: mengampu program diniyyah kelas 1 & 2.
  2.           Ustadzah Musyawaroh: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 1 & 2.
  3.           Ustadz Suradiyono: mengampu program diniyyah kelas 3 & 4.
  4.           Ustadz M. Sofwan Suhaedi: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 3 & 4.
  5.           Ustadz Busrowi: mengampu program diniyyah kelas 5 & 6.
  6.           Ustadz H. Syamsuddin: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 5 & 6.
Bertindak sebagai Penanggung Jawab dan Koordinator Program adalah Irham Sya’roni, S.Pd.I.





Mengenal Program Diniyyah an-Nahdliyyah

Irham Sya'roni   at  Agustus 03, 2018  No comments


Demi menunaikan amanah pendidikan yang diembankan kepada MI Ma’arif Pijenan, mulai tahun ajaran baru 2018/2019 MI Ma’arif Pijenan membuka program baru yang disebut dengan Program Diniyyah an-Nahdliyyah. Program ini dilaksanakan setiap Sabtu mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 09.15 WIB.
Program ini terdiri dari:

1.     Tahfiz Al-Qur’an
Melalui tahfizh al-Qur’an diharapkan setamat dari MI Ma’arif Pijenan peserta didik hafal (minimal) Juz 30 (Juz ‘Amma). Dalam program tahfiz al-Qur’an, para siswa dibimbing langsung oleh ustadz dan ustadzah alumnus pesantren dan ahli di bidangnya, yakni para penghafal (hafizh) al-Qur’an.

2.     Diniyyah Salafiyah
Diniyyah Salafiyyah adalah program pembelajaran khusus keislaman yang berbasis ke-NU-an dan bernuansa kepesantrenan. Program ini diampu dan diasuh oleh para ustadz dan ustadzah alumnus pesantren. Adapun materi khas yang diberikan, di antaranya, adalah keterampilan membaca dan menulis huruf Arab, membaca dan menulis huruf Pegon (Arab-Jawa), hafalan syi'ir/nazham Arab-Jawa, praktik ibadah, amaliyah ke-NU-an, dan sebagainya.
Alokasi waktu untuk program di atas memang sangat singkat. Namun demikian, dengan kerjasama yang sinergis dan harmonis antara peserta didik, dewan asatidz, orang tua, guru kelas, dan Kepala Madrasah, tidak mustahil target dari program tersebut dapat tercapai dengan baik dan membanggakan. Oleh karena itu, demi menyukseskan program tersebut, mari bersinergi demi masa depan pendidikan generasi Islam.

Berikut adalah data dewan asatidz Program Diniyyah an-Nahdliyyah:

  1.           Ustadzah Ulfah Nurhidayah, S.Pd.I: mengampu program diniyyah kelas 1 & 2.
  2.           Ustadzah Musyawaroh: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 1 & 2.
  3.           Ustadz Suradiyono: mengampu program diniyyah kelas 3 & 4.
  4.           Ustadz M. Sofwan Suhaedi: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 3 & 4.
  5.           Ustadz Busrowi: mengampu program diniyyah kelas 5 & 6.
  6.           Ustadz H. Syamsuddin: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 5 & 6.
Bertindak sebagai Penanggung Jawab dan Koordinator Program adalah Irham Sya’roni, S.Pd.I.





Lanjutkan Membaca→

0 komentar:

Kamis, 02 Agustus 2018


Tak ada gading yang tak retak, demikian pepatah yang menegaskan bahwa sebaik apa pun kita pastilah terselip (sedikit atau banyak) ketidaksempurnaan. Pepatah ini kompatibel juga dengan ketidaksempurnaan karya manusia. Sebaik apa pun karya manusia, pastilah terselip ketidaksempurnaan di sana.
Salah satu karya manusia adalah buku. Tak ada satu pun buku di jagat ini yang sempurna 100% tanpa cacat atau kekurangan sedikit saja. Termasuk Buku Siswa “Sejarah Kebudayaan Islam” Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 Kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Madrasah – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2016.


Dalam buku tersebut di halaman 17 tertulis “Perjalanan hidup Nabi Ibrahim, Siti Hawa (istrinya), dan Nabi Ismail (putranya) membuahkan sejumlah ajaran dan kebudayaan Islam yang …”. Kita tahu bahwa Siti Hawa atau Sayyidah Hawa bukanlah istri Nabi Ibrahim, melainkan istri Nabi Adam ‘alaihissalam. Seharusnya, istri Nabi Ibrahim yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah Siti Hajar.
Catatan ini semoga menjadi koreksi bagi penulis buku tersebut sehingga dalam cetakan/edisi berikutnya bisa dilakukan revisi atau perbaikan.

Kesalatan Tulis di Buku SKI Kelas 3 MI

Irham Sya'roni   at  Agustus 02, 2018  No comments


Tak ada gading yang tak retak, demikian pepatah yang menegaskan bahwa sebaik apa pun kita pastilah terselip (sedikit atau banyak) ketidaksempurnaan. Pepatah ini kompatibel juga dengan ketidaksempurnaan karya manusia. Sebaik apa pun karya manusia, pastilah terselip ketidaksempurnaan di sana.
Salah satu karya manusia adalah buku. Tak ada satu pun buku di jagat ini yang sempurna 100% tanpa cacat atau kekurangan sedikit saja. Termasuk Buku Siswa “Sejarah Kebudayaan Islam” Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 Kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Madrasah – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2016.


Dalam buku tersebut di halaman 17 tertulis “Perjalanan hidup Nabi Ibrahim, Siti Hawa (istrinya), dan Nabi Ismail (putranya) membuahkan sejumlah ajaran dan kebudayaan Islam yang …”. Kita tahu bahwa Siti Hawa atau Sayyidah Hawa bukanlah istri Nabi Ibrahim, melainkan istri Nabi Adam ‘alaihissalam. Seharusnya, istri Nabi Ibrahim yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah Siti Hajar.
Catatan ini semoga menjadi koreksi bagi penulis buku tersebut sehingga dalam cetakan/edisi berikutnya bisa dilakukan revisi atau perbaikan.
Lanjutkan Membaca→

0 komentar:

IKLAN

Untuk pemasangan iklan, silakan hubungi 085729901900 atau redaksimipijenan@gmail.com

© 2013 MI Ma'arif Pijenan. WP Theme-junkie converted by Bloggertheme9Published..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.