All Stories

Selasa, 07 Agustus 2018

Kelas 4 MI Ma'arif Pijenan sedang melaksanakan shalat Dhuha


Habituasi atau pembiasaan merupakan proses yang sangat penting dalam pendidikan. Proses pembiasaan ini bertujuan membentuk sikap dan perilaku peserta didik yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang, terus-menerus, dan konsisten sehingga perbuatan atau keterampilan itu benar-benar dikuasai dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Jadi, inti dari proses ini adalah pengulangan, yakni mengulang dan membiasakan suatu tindakan tertentu dalam waktu yang lama.
Habituasi atau pembiasaan ini juga menjadi metode kunci dalam proses pendidikan di MI Ma’arif Pijenan. Salah satunya adalah membiasakan siswa melaksanakan shalat Dhuha secara tertib dan benar. Pembiasaan shalat Dhuha ini dilakukan setiap pagi di bawah bimbingan dan pantauan guru atau ustadz.
Ada dua model pembiasaan yang diterapkan dalam pelaksanaan shalat Dhuha ini. Pertama, seluruh siswa semadrasah melaksanakan shalat Dhuha bersama di halaman madrasah yang dipimpin oleh seorang ustadz. Kedua, siswa melaksanakan shalat Dhuha bersama-sama di kelasnya masing-masing. Model kedua inilah yang diaplikasikan oleh dewan asatidz (guru Program Diniyyah an-Nahdliyyah) setiap pembelajaran pada hari Sabtu.
Selain membiasakan shalat Dhuha, dewan guru dan asatidz juga membimbing dan mengevaluasi siswa dalam mempraktikkan thaharah (wudhu), pembacaan asmaul husna dan doa selepas shalat Dhuha, serta muroja’ah (mengulang) hafalan Juz Amma. Dengan rangkaian pembiasaan ini diharapkan siswa menjadi generasi Qur’ani yang shalih, alim, cendekia, dan ahli ibadah.


Membiasakan Siswa Melaksanakan Shalat Dhuha

Irham Sya'roni   at  Agustus 07, 2018  No comments

Kelas 4 MI Ma'arif Pijenan sedang melaksanakan shalat Dhuha


Habituasi atau pembiasaan merupakan proses yang sangat penting dalam pendidikan. Proses pembiasaan ini bertujuan membentuk sikap dan perilaku peserta didik yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang, terus-menerus, dan konsisten sehingga perbuatan atau keterampilan itu benar-benar dikuasai dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Jadi, inti dari proses ini adalah pengulangan, yakni mengulang dan membiasakan suatu tindakan tertentu dalam waktu yang lama.
Habituasi atau pembiasaan ini juga menjadi metode kunci dalam proses pendidikan di MI Ma’arif Pijenan. Salah satunya adalah membiasakan siswa melaksanakan shalat Dhuha secara tertib dan benar. Pembiasaan shalat Dhuha ini dilakukan setiap pagi di bawah bimbingan dan pantauan guru atau ustadz.
Ada dua model pembiasaan yang diterapkan dalam pelaksanaan shalat Dhuha ini. Pertama, seluruh siswa semadrasah melaksanakan shalat Dhuha bersama di halaman madrasah yang dipimpin oleh seorang ustadz. Kedua, siswa melaksanakan shalat Dhuha bersama-sama di kelasnya masing-masing. Model kedua inilah yang diaplikasikan oleh dewan asatidz (guru Program Diniyyah an-Nahdliyyah) setiap pembelajaran pada hari Sabtu.
Selain membiasakan shalat Dhuha, dewan guru dan asatidz juga membimbing dan mengevaluasi siswa dalam mempraktikkan thaharah (wudhu), pembacaan asmaul husna dan doa selepas shalat Dhuha, serta muroja’ah (mengulang) hafalan Juz Amma. Dengan rangkaian pembiasaan ini diharapkan siswa menjadi generasi Qur’ani yang shalih, alim, cendekia, dan ahli ibadah.


Lanjutkan Membaca→

Jumat, 03 Agustus 2018



Sekilas tulisan di atas tampak seperti tulisan berbahasa Arab, bukan? Tetapi, mintalah orang Arab untuk membacanya, pasti mereka tidak akan bisa. Mengapa demikian? Karena tulisan di atas bukanlah huruf Arab, melainkan huruf Pegon.

Apa itu Huruf Pegon?
Huruf Pegon adalah sistem penulisan (writing system) yang menggunakan/meminjam aksara Arab yang dimodifikasi (Arabic modified script) untuk menuliskan ejaan bahasa-bahasa lokal, semisal bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Madura, dan bahasa Bali, termasuk juga digunakan untuk menuliskan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Konon, kata Pegon berasal dari lafal Jawa Pego, yang berarti menyimpang.
Para santri Pesantren dan siswa madrasah diniyah yang berafiliasi di bawah organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tentu tidak asing dengan huruf Pegon. Bahkan, mereka sangat karib karena untuk memaknai kitab salaf mereka harus menggunakan huruf ini. Setidaknya, untuk tingkat dasar (ibtida’), huruf Pegon menjadi huruf utama dalam kitab-kitab yang mereka kaji. Sebut saja beberapa kitab tingkat dasar karya ulama Nusantara, di antaranya, Fasholatan karya KHR. Asnawi Kudus, Syi’ir Bahasa Arab (Ro’sun sirah) karya Kiai Zubaidi Hasbullah, Kitab Alala [1], Ngudi Susilo karya KH. Bisri Mustofa, dan lain-lain.

 





Keunikan Huruf Pegon
Dilihat dari struktur penulisannya, huruf Pegon mempunyai keunikan tersendiri.
1.     Tulisannya seperti tulisan Arab pada umumnya. Akan tetapi, jika dicermati, rangkaian hurufnya tidak membentuk kata dalam bahasa Arab.
2.    Menggunakan semua aksara hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang telah dimodifikasi. Misalnya, untuk konsonan P  menggunakan huruf fa’ dengan tiga titik di atasnya; konsonan C menggunakan huruf Jim yang bertitik tiga di bawah; konsonan G menggunakan huruf Kaf yang bertitik tiga di bawah atau bertitik satu di atas.


Sejak Kapan Ada Huruf Pegon?
Konon, tradisi menulis dengan huruf Pegon telah tumbuh sejak abad ke-16. Bahkan, ada pula yang berpandangan bahwa penulisan Arab Pegon di Nusantara diperkirakan telah ada sejak tahun 1300 M/1400 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan kepercayaan animisme, Hindu, dan Budha.
Mengenai siapa yang menemukan huruf Arab Pegon, para peneliti belum menemukan titik terang. Namun, yang jelas, bisa dipastikan huruf Pegon merupakan karya intelektual muslim Nusantara pada abadnya.


[1] Kitab kecil yang terdiri dari 37 bait nazham ini sebetulnya merupakan kumpulan bait-bait syi’ir yang termaktub acak dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya az-Zarnuji. Kitab Alala memiliki beberapa versi cetakan/penerbitan. Dalam satu versi tidak dicantumkan nama pengarangnya. Sementara dalam versi lain ada yang mencantumkan nama Muhammad Abu Basyir Al-Dimawi, dan ada pula nama Muhammad Hasanuddin Hafid al-Marhum & Haji Muhammad Masyhadi Pekalongan, sebagai pengarangnya (penyusun bait-bait syi’ir berbahasa Jawa dan berhuruf Pegon).

Mengenal Huruf Pegon

Irham Sya'roni   at  Agustus 03, 2018  No comments



Sekilas tulisan di atas tampak seperti tulisan berbahasa Arab, bukan? Tetapi, mintalah orang Arab untuk membacanya, pasti mereka tidak akan bisa. Mengapa demikian? Karena tulisan di atas bukanlah huruf Arab, melainkan huruf Pegon.

Apa itu Huruf Pegon?
Huruf Pegon adalah sistem penulisan (writing system) yang menggunakan/meminjam aksara Arab yang dimodifikasi (Arabic modified script) untuk menuliskan ejaan bahasa-bahasa lokal, semisal bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Madura, dan bahasa Bali, termasuk juga digunakan untuk menuliskan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Konon, kata Pegon berasal dari lafal Jawa Pego, yang berarti menyimpang.
Para santri Pesantren dan siswa madrasah diniyah yang berafiliasi di bawah organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tentu tidak asing dengan huruf Pegon. Bahkan, mereka sangat karib karena untuk memaknai kitab salaf mereka harus menggunakan huruf ini. Setidaknya, untuk tingkat dasar (ibtida’), huruf Pegon menjadi huruf utama dalam kitab-kitab yang mereka kaji. Sebut saja beberapa kitab tingkat dasar karya ulama Nusantara, di antaranya, Fasholatan karya KHR. Asnawi Kudus, Syi’ir Bahasa Arab (Ro’sun sirah) karya Kiai Zubaidi Hasbullah, Kitab Alala [1], Ngudi Susilo karya KH. Bisri Mustofa, dan lain-lain.

 





Keunikan Huruf Pegon
Dilihat dari struktur penulisannya, huruf Pegon mempunyai keunikan tersendiri.
1.     Tulisannya seperti tulisan Arab pada umumnya. Akan tetapi, jika dicermati, rangkaian hurufnya tidak membentuk kata dalam bahasa Arab.
2.    Menggunakan semua aksara hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang telah dimodifikasi. Misalnya, untuk konsonan P  menggunakan huruf fa’ dengan tiga titik di atasnya; konsonan C menggunakan huruf Jim yang bertitik tiga di bawah; konsonan G menggunakan huruf Kaf yang bertitik tiga di bawah atau bertitik satu di atas.


Sejak Kapan Ada Huruf Pegon?
Konon, tradisi menulis dengan huruf Pegon telah tumbuh sejak abad ke-16. Bahkan, ada pula yang berpandangan bahwa penulisan Arab Pegon di Nusantara diperkirakan telah ada sejak tahun 1300 M/1400 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan kepercayaan animisme, Hindu, dan Budha.
Mengenai siapa yang menemukan huruf Arab Pegon, para peneliti belum menemukan titik terang. Namun, yang jelas, bisa dipastikan huruf Pegon merupakan karya intelektual muslim Nusantara pada abadnya.


[1] Kitab kecil yang terdiri dari 37 bait nazham ini sebetulnya merupakan kumpulan bait-bait syi’ir yang termaktub acak dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya az-Zarnuji. Kitab Alala memiliki beberapa versi cetakan/penerbitan. Dalam satu versi tidak dicantumkan nama pengarangnya. Sementara dalam versi lain ada yang mencantumkan nama Muhammad Abu Basyir Al-Dimawi, dan ada pula nama Muhammad Hasanuddin Hafid al-Marhum & Haji Muhammad Masyhadi Pekalongan, sebagai pengarangnya (penyusun bait-bait syi’ir berbahasa Jawa dan berhuruf Pegon).

Lanjutkan Membaca→


Diniyyah an-Nahdliyyah, yang meliputi program hafalan (tahfizh) Juz ‘Amma dan diniyyah salafiyyah, merupakan program baru di MI Ma’arif Pijenan. Sebagai program baru tentunya membutuhkan perjuangan dan koordinasi yang lebih intensif daripada program lainnya yang lebih dulu berjalan dan mapan. Untuk itulah Dewan Asatidz bersepakat menggelar koordinasi rutin setiap seminggu sekali. Dalam koordinasi ini, selain membahas persoalan pendidikan dan pembelajaran, juga menjadi ajang silaturahim antardewan asatidz.
Menyadari bahwa dunia pendidikan dan pembelajaran yang terus berkembang, dalam koordinasi mingguan itu disampaikan kuliah singkat dan pelatihan keterampilan pedagogis untuk para ustadz dan ustadzah. Kuliah singkat dan pelatihan keterampilan pedagogis diberikan oleh Irham Sya’roni, S.Pd.I selaku Penanggung Jawab dan Koordinator Program.

Koordinasi Perdana di Ingkung Pak Budi

Koordinasi
Koordinasi mutlak dibutuhkan dalam sebuah organisasi. Tanpa koordinasi yang baik, roda organisasi akan mengalami disharmoni atau ketidakselarasan dalam perputaran dan perjalanannya. O. Sutisna, dalam Administrasi Pendidikan (1989) mendefinisikan koordinasi sebagai proses mempersatukan sumbangan-sumbangan dari orang-orang, bahan, dan sumber-sumber lain ke arah maksud-maksud yg telah ditetapkan.

Koordinasi Kedua di Rumah Bapak Irham Sya'roni

Silaturahim
Kekeluargaan dan kebersamaan merupakan asas penting suatu sistem organisasi. Pun dalam Program Diniyyah an-Nahdliyyah, asas kebersamaan dan kekeluargaan menjadi keniscayaan yang tak boleh diabaikan. Dengan asas ini pulalah koordinasi akan berjalan lebih luwes dan cair. Koordinasi yang terbangun bukanlah antara atasan dan bawahan, melainkan antara anggota keluarga sebagai partner kerja. Hubungan yang tercipta pun bukan hierarkis, melainkan kolektif kolegial. Kekeluargaan dan kebersamaan ini boleh kita sebut sebagai silaturahim.

Koordinasi di Rumah Ust. H. Syamsuddin 


Pelatihan Keterampilan Pedagogis
Mayoritas para ustadz dan ustadzah adalah mutakharrijin (alumnus) pesantren salaf, yang notabene mereka mempunyai basis keilmuan agama yang mumpuni namun belum sepenuhnya menguasai keterampilan pedagogis. Oleh karena itulah pelatihan keterampilan pedagogis mutlak diberikan agar keilmuan yang mumpuni tersebut dapat tersampaikan dalam pembelajaran secara baik, efektif, dan menyenangkan.
Di antara materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah metode dan strategi pembelajaran, keterampilan mengondisikan kelas, keterampilan menarik perhatian siswa, teknik evaluasi, dan lain-lain.
Pungkasan, Semoga semua pihak yang terlibat dalam perjuangan memajukan pendidikan Islam di Indonesia senantiasa mendapat ridha Allah Ta’ala dan dicatat sebagai amal jariyah mereka semua. Aamiin…
 
Pelatihan Keterampilan Pedagogis Dewan Asatidz

Koordinasi, Silaturahim, & Pelatihan Keterampilan Pedagogis

Irham Sya'roni   at  Agustus 03, 2018  No comments


Diniyyah an-Nahdliyyah, yang meliputi program hafalan (tahfizh) Juz ‘Amma dan diniyyah salafiyyah, merupakan program baru di MI Ma’arif Pijenan. Sebagai program baru tentunya membutuhkan perjuangan dan koordinasi yang lebih intensif daripada program lainnya yang lebih dulu berjalan dan mapan. Untuk itulah Dewan Asatidz bersepakat menggelar koordinasi rutin setiap seminggu sekali. Dalam koordinasi ini, selain membahas persoalan pendidikan dan pembelajaran, juga menjadi ajang silaturahim antardewan asatidz.
Menyadari bahwa dunia pendidikan dan pembelajaran yang terus berkembang, dalam koordinasi mingguan itu disampaikan kuliah singkat dan pelatihan keterampilan pedagogis untuk para ustadz dan ustadzah. Kuliah singkat dan pelatihan keterampilan pedagogis diberikan oleh Irham Sya’roni, S.Pd.I selaku Penanggung Jawab dan Koordinator Program.

Koordinasi Perdana di Ingkung Pak Budi

Koordinasi
Koordinasi mutlak dibutuhkan dalam sebuah organisasi. Tanpa koordinasi yang baik, roda organisasi akan mengalami disharmoni atau ketidakselarasan dalam perputaran dan perjalanannya. O. Sutisna, dalam Administrasi Pendidikan (1989) mendefinisikan koordinasi sebagai proses mempersatukan sumbangan-sumbangan dari orang-orang, bahan, dan sumber-sumber lain ke arah maksud-maksud yg telah ditetapkan.

Koordinasi Kedua di Rumah Bapak Irham Sya'roni

Silaturahim
Kekeluargaan dan kebersamaan merupakan asas penting suatu sistem organisasi. Pun dalam Program Diniyyah an-Nahdliyyah, asas kebersamaan dan kekeluargaan menjadi keniscayaan yang tak boleh diabaikan. Dengan asas ini pulalah koordinasi akan berjalan lebih luwes dan cair. Koordinasi yang terbangun bukanlah antara atasan dan bawahan, melainkan antara anggota keluarga sebagai partner kerja. Hubungan yang tercipta pun bukan hierarkis, melainkan kolektif kolegial. Kekeluargaan dan kebersamaan ini boleh kita sebut sebagai silaturahim.

Koordinasi di Rumah Ust. H. Syamsuddin 


Pelatihan Keterampilan Pedagogis
Mayoritas para ustadz dan ustadzah adalah mutakharrijin (alumnus) pesantren salaf, yang notabene mereka mempunyai basis keilmuan agama yang mumpuni namun belum sepenuhnya menguasai keterampilan pedagogis. Oleh karena itulah pelatihan keterampilan pedagogis mutlak diberikan agar keilmuan yang mumpuni tersebut dapat tersampaikan dalam pembelajaran secara baik, efektif, dan menyenangkan.
Di antara materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah metode dan strategi pembelajaran, keterampilan mengondisikan kelas, keterampilan menarik perhatian siswa, teknik evaluasi, dan lain-lain.
Pungkasan, Semoga semua pihak yang terlibat dalam perjuangan memajukan pendidikan Islam di Indonesia senantiasa mendapat ridha Allah Ta’ala dan dicatat sebagai amal jariyah mereka semua. Aamiin…
 
Pelatihan Keterampilan Pedagogis Dewan Asatidz

Lanjutkan Membaca→


Demi menunaikan amanah pendidikan yang diembankan kepada MI Ma’arif Pijenan, mulai tahun ajaran baru 2018/2019 MI Ma’arif Pijenan membuka program baru yang disebut dengan Program Diniyyah an-Nahdliyyah. Program ini dilaksanakan setiap Sabtu mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 09.15 WIB.
Program ini terdiri dari:

1.     Tahfiz Al-Qur’an
Melalui tahfizh al-Qur’an diharapkan setamat dari MI Ma’arif Pijenan peserta didik hafal (minimal) Juz 30 (Juz ‘Amma). Dalam program tahfiz al-Qur’an, para siswa dibimbing langsung oleh ustadz dan ustadzah alumnus pesantren dan ahli di bidangnya, yakni para penghafal (hafizh) al-Qur’an.

2.     Diniyyah Salafiyah
Diniyyah Salafiyyah adalah program pembelajaran khusus keislaman yang berbasis ke-NU-an dan bernuansa kepesantrenan. Program ini diampu dan diasuh oleh para ustadz dan ustadzah alumnus pesantren. Adapun materi khas yang diberikan, di antaranya, adalah keterampilan membaca dan menulis huruf Arab, membaca dan menulis huruf Pegon (Arab-Jawa), hafalan syi'ir/nazham Arab-Jawa, praktik ibadah, amaliyah ke-NU-an, dan sebagainya.
Alokasi waktu untuk program di atas memang sangat singkat. Namun demikian, dengan kerjasama yang sinergis dan harmonis antara peserta didik, dewan asatidz, orang tua, guru kelas, dan Kepala Madrasah, tidak mustahil target dari program tersebut dapat tercapai dengan baik dan membanggakan. Oleh karena itu, demi menyukseskan program tersebut, mari bersinergi demi masa depan pendidikan generasi Islam.

Berikut adalah data dewan asatidz Program Diniyyah an-Nahdliyyah:

  1.           Ustadzah Ulfah Nurhidayah, S.Pd.I: mengampu program diniyyah kelas 1 & 2.
  2.           Ustadzah Musyawaroh: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 1 & 2.
  3.           Ustadz Suradiyono: mengampu program diniyyah kelas 3 & 4.
  4.           Ustadz M. Sofwan Suhaedi: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 3 & 4.
  5.           Ustadz Busrowi: mengampu program diniyyah kelas 5 & 6.
  6.           Ustadz H. Syamsuddin: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 5 & 6.
Bertindak sebagai Penanggung Jawab dan Koordinator Program adalah Irham Sya’roni, S.Pd.I.





Mengenal Program Diniyyah an-Nahdliyyah

Irham Sya'roni   at  Agustus 03, 2018  No comments


Demi menunaikan amanah pendidikan yang diembankan kepada MI Ma’arif Pijenan, mulai tahun ajaran baru 2018/2019 MI Ma’arif Pijenan membuka program baru yang disebut dengan Program Diniyyah an-Nahdliyyah. Program ini dilaksanakan setiap Sabtu mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 09.15 WIB.
Program ini terdiri dari:

1.     Tahfiz Al-Qur’an
Melalui tahfizh al-Qur’an diharapkan setamat dari MI Ma’arif Pijenan peserta didik hafal (minimal) Juz 30 (Juz ‘Amma). Dalam program tahfiz al-Qur’an, para siswa dibimbing langsung oleh ustadz dan ustadzah alumnus pesantren dan ahli di bidangnya, yakni para penghafal (hafizh) al-Qur’an.

2.     Diniyyah Salafiyah
Diniyyah Salafiyyah adalah program pembelajaran khusus keislaman yang berbasis ke-NU-an dan bernuansa kepesantrenan. Program ini diampu dan diasuh oleh para ustadz dan ustadzah alumnus pesantren. Adapun materi khas yang diberikan, di antaranya, adalah keterampilan membaca dan menulis huruf Arab, membaca dan menulis huruf Pegon (Arab-Jawa), hafalan syi'ir/nazham Arab-Jawa, praktik ibadah, amaliyah ke-NU-an, dan sebagainya.
Alokasi waktu untuk program di atas memang sangat singkat. Namun demikian, dengan kerjasama yang sinergis dan harmonis antara peserta didik, dewan asatidz, orang tua, guru kelas, dan Kepala Madrasah, tidak mustahil target dari program tersebut dapat tercapai dengan baik dan membanggakan. Oleh karena itu, demi menyukseskan program tersebut, mari bersinergi demi masa depan pendidikan generasi Islam.

Berikut adalah data dewan asatidz Program Diniyyah an-Nahdliyyah:

  1.           Ustadzah Ulfah Nurhidayah, S.Pd.I: mengampu program diniyyah kelas 1 & 2.
  2.           Ustadzah Musyawaroh: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 1 & 2.
  3.           Ustadz Suradiyono: mengampu program diniyyah kelas 3 & 4.
  4.           Ustadz M. Sofwan Suhaedi: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 3 & 4.
  5.           Ustadz Busrowi: mengampu program diniyyah kelas 5 & 6.
  6.           Ustadz H. Syamsuddin: mengampu program tahfizh al-Qur’an kelas 5 & 6.
Bertindak sebagai Penanggung Jawab dan Koordinator Program adalah Irham Sya’roni, S.Pd.I.





Lanjutkan Membaca→

Kamis, 02 Agustus 2018


Tak ada gading yang tak retak, demikian pepatah yang menegaskan bahwa sebaik apa pun kita pastilah terselip (sedikit atau banyak) ketidaksempurnaan. Pepatah ini kompatibel juga dengan ketidaksempurnaan karya manusia. Sebaik apa pun karya manusia, pastilah terselip ketidaksempurnaan di sana.
Salah satu karya manusia adalah buku. Tak ada satu pun buku di jagat ini yang sempurna 100% tanpa cacat atau kekurangan sedikit saja. Termasuk Buku Siswa “Sejarah Kebudayaan Islam” Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 Kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Madrasah – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2016.


Dalam buku tersebut di halaman 17 tertulis “Perjalanan hidup Nabi Ibrahim, Siti Hawa (istrinya), dan Nabi Ismail (putranya) membuahkan sejumlah ajaran dan kebudayaan Islam yang …”. Kita tahu bahwa Siti Hawa atau Sayyidah Hawa bukanlah istri Nabi Ibrahim, melainkan istri Nabi Adam ‘alaihissalam. Seharusnya, istri Nabi Ibrahim yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah Siti Hajar.
Catatan ini semoga menjadi koreksi bagi penulis buku tersebut sehingga dalam cetakan/edisi berikutnya bisa dilakukan revisi atau perbaikan.

Kesalatan Tulis di Buku SKI Kelas 3 MI

Irham Sya'roni   at  Agustus 02, 2018  No comments


Tak ada gading yang tak retak, demikian pepatah yang menegaskan bahwa sebaik apa pun kita pastilah terselip (sedikit atau banyak) ketidaksempurnaan. Pepatah ini kompatibel juga dengan ketidaksempurnaan karya manusia. Sebaik apa pun karya manusia, pastilah terselip ketidaksempurnaan di sana.
Salah satu karya manusia adalah buku. Tak ada satu pun buku di jagat ini yang sempurna 100% tanpa cacat atau kekurangan sedikit saja. Termasuk Buku Siswa “Sejarah Kebudayaan Islam” Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 Kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Madrasah – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2016.


Dalam buku tersebut di halaman 17 tertulis “Perjalanan hidup Nabi Ibrahim, Siti Hawa (istrinya), dan Nabi Ismail (putranya) membuahkan sejumlah ajaran dan kebudayaan Islam yang …”. Kita tahu bahwa Siti Hawa atau Sayyidah Hawa bukanlah istri Nabi Ibrahim, melainkan istri Nabi Adam ‘alaihissalam. Seharusnya, istri Nabi Ibrahim yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah Siti Hajar.
Catatan ini semoga menjadi koreksi bagi penulis buku tersebut sehingga dalam cetakan/edisi berikutnya bisa dilakukan revisi atau perbaikan.
Lanjutkan Membaca→

Jumat, 29 Juni 2018


Selamat malam pembaca. Mungkin admin terlalu bersemangat ya, malam-malam begini update berita terbaru dari madrasah. Malam yang sangat indah karena kemarin malam nampaknya ada kenampakan alam blood moon ya. Ada yang sempat menyaksikan? okelaah
Pagi tadi, tepat hari Jum’at tanggal 29 Juni 2018 madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Pijenan kedatangan motivator hebat yang berasal dari Solo, kalau sekilas membaca CV (curriculum vitae) beliau, nampaknya perjalanan pengalaman mengajar ataupun menjabat sebagai kepala sekolah sudah cukup mumpuni ditambah lagi kini beliau menjadi konsultan pendidikan.
Nah, segitu dulu ya perkenalannya. Sekarang kita baca dan simak bersama isi dari motivasi yang beliau sampaikan tadi.
  1.  Guru, digugu lan ditiru. Apa yang kita lakukan akan menjadi magnet tersendiri bagi siswa. Karena siswa itu adalah manipulasi yang handal, dan sentral pendididkan kalau bukan guru siapa lagi. Nah, kalau kita sadar posisi kita sebagai seorang pendidik, kita harus bisa mengontrol apapun yang akan kita lakukan. Apalagi dengan adanya posisi menjadi guru yang selalu berjam2 dihadapan siswa, harus bisa mengelola emosi, menstabilkan semangat, dan tentunya bisa mendidik dan menyampaikan ilmu secara seimbang. Segala sesuatu jika dimulai dari hati maka hatipun yang akan menerima, jika kita mendidik dari hati, maka hati anakpun yang akan menerima. 
  2. Siswa bukan sebuah warna, bukan sebuah satu warna yang bisa diperlakukan sama. Kelas adalah ruang praktik bersama. Dimana kita sadar, bahwa didalam kelas terdapat berbagai macam warna yang semuanya jika disajikan secara bersama-sama akan menjadi kesatuan yang indah. Kita tidak bisa memperlakukan warna biru sama dengan memperlakukan warna merah. Warna hanyalah sebuah contoh bahwa murid itu bukan sesuatu hal yang bisa kita samakan dalam hal apapun termasuk dalam hal kemampuan anak. Setiap anak mempunyai kemampuan dan bakat yang berbeda, kita tidak bisa memaksa satu kelas untuk bisa berbakat dalam satu hal yang sama. Sampai halnya ikan, ikan ya ikan, kita tidak akan bisa memaksa ikan untuk bisa terbang seperti burung dan memanjat seperti kucing. Pahami kemampuan anak dan temukan bakat yang ada dalam diri anak.
  3. Dimanapun satuan pendidikan, pasti selalu mempunyai visi dan misi. Setiap hari senin dalam upacara bendera akan ada waktu khusus untuk membaca visi misi madrasah secara bersama-sama. Visi dan misi akan bisa melekat dalam diri seorang apabila kita senantiasa mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya formalitas tulisan yang tak bermakna tapi harapannya dalam sebuah visi dan misi itu, semua yang berada dilingkungan madrasah bisa memahaminya secara nyata. Karena visi melambangkan satu tujuan bersama yang nantinya akan dirawat dan dipetik secara bersama-sama juga. Dan selain itu, pribadi masing-masing guru juga harus mempunyai visi misi dalam hidupnya, agar lebih bisa mempunyai greget dalam menjalani kehidupan.
  4. Pembentukan karakter itu dilmulai dari diri sendiri, untuk memulai segala sesuatunya tentunya harus berasal dari hal yang tersempit dan terkecil. Jika kita ingin merubah dunia, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah merubah diri sendiri. Kalau kita saja enggan merubah diri sendiri, jangan harap bisa merubah oranglain. Mulai dari hati, mantapkan niat, lalu mulai melangkah untuk menemukan hal-hal yang baru. Jika kita melihat madrasah-madrasah hebat, tentu guru-guru dan orang yang berada dalam lingkungan mdrasah juga hebat. Pendidik adalah orang yang harus bisa mencintai ilmu, haus akan ilmu-ilmu, dan juga haus untuk membagikan ilmu yang ia dapatkan kepada oranglain. Dengan begitu akan terjadi keseimbangan, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa dibagikan dan bermanfaat bagi orang lain. Untuk itu, di harapkan para pendidik, jangan ada alasan untuk berhenti belajar, karena belajar itu dimulai dari kita lahir sampai masuk tiang lahat. Menfaatkan waktu yang masih ada untuk belajar untuk berkarya dan belajar lebih lagi.

sekian
_Semoga bermanfaat_





Sharing Bersama Motivator Pendidikan

MI Ma'arif Pijenan   at  Juni 29, 2018  1 comment


Selamat malam pembaca. Mungkin admin terlalu bersemangat ya, malam-malam begini update berita terbaru dari madrasah. Malam yang sangat indah karena kemarin malam nampaknya ada kenampakan alam blood moon ya. Ada yang sempat menyaksikan? okelaah
Pagi tadi, tepat hari Jum’at tanggal 29 Juni 2018 madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Pijenan kedatangan motivator hebat yang berasal dari Solo, kalau sekilas membaca CV (curriculum vitae) beliau, nampaknya perjalanan pengalaman mengajar ataupun menjabat sebagai kepala sekolah sudah cukup mumpuni ditambah lagi kini beliau menjadi konsultan pendidikan.
Nah, segitu dulu ya perkenalannya. Sekarang kita baca dan simak bersama isi dari motivasi yang beliau sampaikan tadi.
  1.  Guru, digugu lan ditiru. Apa yang kita lakukan akan menjadi magnet tersendiri bagi siswa. Karena siswa itu adalah manipulasi yang handal, dan sentral pendididkan kalau bukan guru siapa lagi. Nah, kalau kita sadar posisi kita sebagai seorang pendidik, kita harus bisa mengontrol apapun yang akan kita lakukan. Apalagi dengan adanya posisi menjadi guru yang selalu berjam2 dihadapan siswa, harus bisa mengelola emosi, menstabilkan semangat, dan tentunya bisa mendidik dan menyampaikan ilmu secara seimbang. Segala sesuatu jika dimulai dari hati maka hatipun yang akan menerima, jika kita mendidik dari hati, maka hati anakpun yang akan menerima. 
  2. Siswa bukan sebuah warna, bukan sebuah satu warna yang bisa diperlakukan sama. Kelas adalah ruang praktik bersama. Dimana kita sadar, bahwa didalam kelas terdapat berbagai macam warna yang semuanya jika disajikan secara bersama-sama akan menjadi kesatuan yang indah. Kita tidak bisa memperlakukan warna biru sama dengan memperlakukan warna merah. Warna hanyalah sebuah contoh bahwa murid itu bukan sesuatu hal yang bisa kita samakan dalam hal apapun termasuk dalam hal kemampuan anak. Setiap anak mempunyai kemampuan dan bakat yang berbeda, kita tidak bisa memaksa satu kelas untuk bisa berbakat dalam satu hal yang sama. Sampai halnya ikan, ikan ya ikan, kita tidak akan bisa memaksa ikan untuk bisa terbang seperti burung dan memanjat seperti kucing. Pahami kemampuan anak dan temukan bakat yang ada dalam diri anak.
  3. Dimanapun satuan pendidikan, pasti selalu mempunyai visi dan misi. Setiap hari senin dalam upacara bendera akan ada waktu khusus untuk membaca visi misi madrasah secara bersama-sama. Visi dan misi akan bisa melekat dalam diri seorang apabila kita senantiasa mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya formalitas tulisan yang tak bermakna tapi harapannya dalam sebuah visi dan misi itu, semua yang berada dilingkungan madrasah bisa memahaminya secara nyata. Karena visi melambangkan satu tujuan bersama yang nantinya akan dirawat dan dipetik secara bersama-sama juga. Dan selain itu, pribadi masing-masing guru juga harus mempunyai visi misi dalam hidupnya, agar lebih bisa mempunyai greget dalam menjalani kehidupan.
  4. Pembentukan karakter itu dilmulai dari diri sendiri, untuk memulai segala sesuatunya tentunya harus berasal dari hal yang tersempit dan terkecil. Jika kita ingin merubah dunia, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah merubah diri sendiri. Kalau kita saja enggan merubah diri sendiri, jangan harap bisa merubah oranglain. Mulai dari hati, mantapkan niat, lalu mulai melangkah untuk menemukan hal-hal yang baru. Jika kita melihat madrasah-madrasah hebat, tentu guru-guru dan orang yang berada dalam lingkungan mdrasah juga hebat. Pendidik adalah orang yang harus bisa mencintai ilmu, haus akan ilmu-ilmu, dan juga haus untuk membagikan ilmu yang ia dapatkan kepada oranglain. Dengan begitu akan terjadi keseimbangan, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa dibagikan dan bermanfaat bagi orang lain. Untuk itu, di harapkan para pendidik, jangan ada alasan untuk berhenti belajar, karena belajar itu dimulai dari kita lahir sampai masuk tiang lahat. Menfaatkan waktu yang masih ada untuk belajar untuk berkarya dan belajar lebih lagi.

sekian
_Semoga bermanfaat_





Lanjutkan Membaca→

Selasa, 26 Juni 2018

“Aku mau bercerita sedikit. Tolong dengarkan, ya,” kata (alm) KH. Nawawi Abdul Aziz, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem Bantul,  sekira sembilan tahun lalu. Sebagai tamu sekaligus santri, tentu saya ta’zhim dan setia mendengarkan beliau bercerita.
“Ada seorang kiai mempunyai pesantren dengan 30 orang santri,” tutur beliau. “Awalnya, dia sangat rajin mengajar para santrinya itu. Suatu hari, kiai ini mendapat undangan berceramah di luar kota. Terpaksa dia harus meliburkan jadwal mengajinya untuk para santri. Sontak para santri bersorak girang karena pengajian diliburkan.”
Mbah Nawawi, demikian beliau akrab disapa, sejenak menarik napas dalam-dalam lalu merapikan pakaian yang beliau kenakan dan menggeser posisi duduk agar lebih nyaman.
“Sekali, dua kali, tiga kali pengajian diliburkan, para santri menyambutnya dengan gembira,” beliau melanjutkan kisahnya. “Namun, pada kali keempat, ketika sang kiai hendak absen lagi dari mengajar karena harus berceramah di luar kota, tidak tampak lagi kegembiraan di wajah para santrinya. Semua muka masam. Semua mulut terdiam. Semuanya lalu bergegas mengemasi kitab dan pakaian, keluar dari pesantren itu.”
Saat itulah kiai tersebut tersadar bahwa sebagai mu’allim (pengajar) dan murabbi (pendidik) dia sejatinya mengemban amanah yang tidak ringan, yakni istiqamah dan bertanggung jawab lahir batin untuk mendidik para santri dan anak-anak didiknya.
Saat itu Mbah Nawawi tidak menyebutkan siapa dan di mana pelakon dalam cerita yang beliau tuturkan. Bahkan, sampai beliau wafat pada 24 Desember 2014, pelakon dan locus (tempat) dalam cerita itu tidak pernah beliau gamblangkan. Bisa jadi sekadar cerita rekaan untuk mewejang saya kala itu. Namun, bisa pula memang kisah nyata yang tak elok disebutkan pelakonnya. Terlepas dari rekaan atau kenyataan, sesungguhnya cerita tersebut merupakan wejangan yang sarat dengan pesan moral, terutama tentang istiqamah dan amanah.
Pendidikan akan mencapai puncak keberhasilan dan keberkahan manakala semua pihak bersama-sama mengedepankan prinsip istiqamah dan amanah. Jika kepala sekolah, guru, staf, orang tua, komite sekolah, orang tua siswa, dan para siswa sadar akan pentingnya amanah dan istiqamah, insyaAllah tujuan pendidikan di sekolah tersebut akan tercapai dengan taburan keberkahan dari Allah Ta’ala. Kesadaran akan hal ini tidak bisa dibangkitkan hanya dengan cara diseminarkan atau dijadikan slogan, tetapi harus benar-benar ditanamkan secara ruhaniah di dalam hati.

Educating the mind without educating the heart is no education at all.” — Aristoteles
(Mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah tidak mendidik sama sekali.)

Istiqamah menunaikan amanah memang teramat berat. Karenanya para ulama mengatakan, “Satu keistiqamahan lebih baik daripada seribu keramat.” Rasulullah juga bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah, dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad)
Semoga Allah Ta’ala senantiasa membuka kesadaran kita dan memberi pertolongan kepada kita agar senantiasa beristiqamah dalam menunaikan amanah. Aamiin… []

*) Intisari tulisan ini telah dipublikasikan di SKH. Kedaulatan Rakyat pada Jumat Kliwon, 5 Januari 2018, halaman 10. Dipublikasikan juga di http://www.pondok-ngrukem.com

Pesan KH. Nawawi Abdul Aziz

Irham Sya'roni   at  Juni 26, 2018  No comments

“Aku mau bercerita sedikit. Tolong dengarkan, ya,” kata (alm) KH. Nawawi Abdul Aziz, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem Bantul,  sekira sembilan tahun lalu. Sebagai tamu sekaligus santri, tentu saya ta’zhim dan setia mendengarkan beliau bercerita.
“Ada seorang kiai mempunyai pesantren dengan 30 orang santri,” tutur beliau. “Awalnya, dia sangat rajin mengajar para santrinya itu. Suatu hari, kiai ini mendapat undangan berceramah di luar kota. Terpaksa dia harus meliburkan jadwal mengajinya untuk para santri. Sontak para santri bersorak girang karena pengajian diliburkan.”
Mbah Nawawi, demikian beliau akrab disapa, sejenak menarik napas dalam-dalam lalu merapikan pakaian yang beliau kenakan dan menggeser posisi duduk agar lebih nyaman.
“Sekali, dua kali, tiga kali pengajian diliburkan, para santri menyambutnya dengan gembira,” beliau melanjutkan kisahnya. “Namun, pada kali keempat, ketika sang kiai hendak absen lagi dari mengajar karena harus berceramah di luar kota, tidak tampak lagi kegembiraan di wajah para santrinya. Semua muka masam. Semua mulut terdiam. Semuanya lalu bergegas mengemasi kitab dan pakaian, keluar dari pesantren itu.”
Saat itulah kiai tersebut tersadar bahwa sebagai mu’allim (pengajar) dan murabbi (pendidik) dia sejatinya mengemban amanah yang tidak ringan, yakni istiqamah dan bertanggung jawab lahir batin untuk mendidik para santri dan anak-anak didiknya.
Saat itu Mbah Nawawi tidak menyebutkan siapa dan di mana pelakon dalam cerita yang beliau tuturkan. Bahkan, sampai beliau wafat pada 24 Desember 2014, pelakon dan locus (tempat) dalam cerita itu tidak pernah beliau gamblangkan. Bisa jadi sekadar cerita rekaan untuk mewejang saya kala itu. Namun, bisa pula memang kisah nyata yang tak elok disebutkan pelakonnya. Terlepas dari rekaan atau kenyataan, sesungguhnya cerita tersebut merupakan wejangan yang sarat dengan pesan moral, terutama tentang istiqamah dan amanah.
Pendidikan akan mencapai puncak keberhasilan dan keberkahan manakala semua pihak bersama-sama mengedepankan prinsip istiqamah dan amanah. Jika kepala sekolah, guru, staf, orang tua, komite sekolah, orang tua siswa, dan para siswa sadar akan pentingnya amanah dan istiqamah, insyaAllah tujuan pendidikan di sekolah tersebut akan tercapai dengan taburan keberkahan dari Allah Ta’ala. Kesadaran akan hal ini tidak bisa dibangkitkan hanya dengan cara diseminarkan atau dijadikan slogan, tetapi harus benar-benar ditanamkan secara ruhaniah di dalam hati.

Educating the mind without educating the heart is no education at all.” — Aristoteles
(Mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah tidak mendidik sama sekali.)

Istiqamah menunaikan amanah memang teramat berat. Karenanya para ulama mengatakan, “Satu keistiqamahan lebih baik daripada seribu keramat.” Rasulullah juga bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah, dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad)
Semoga Allah Ta’ala senantiasa membuka kesadaran kita dan memberi pertolongan kepada kita agar senantiasa beristiqamah dalam menunaikan amanah. Aamiin… []

*) Intisari tulisan ini telah dipublikasikan di SKH. Kedaulatan Rakyat pada Jumat Kliwon, 5 Januari 2018, halaman 10. Dipublikasikan juga di http://www.pondok-ngrukem.com
Lanjutkan Membaca→

IKLAN

Untuk pemasangan iklan, silakan hubungi 085729901900 atau redaksimipijenan@gmail.com

© 2013 MI Ma'arif Pijenan. WP Theme-junkie converted by Bloggertheme9Published..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.